mscbo
indolucky7
berita bola

Zona Sang Legenda » Perkawinan Sempurna Nasionalisme dan Intuisi

 

Kamis, 26 Jan 2006, 06:52
Perkawinan Sempurna Nasionalisme dan Intuisi
 
Jadi pionir Piala Dunia, Argentina harus menunggu 48 tahun untuk bisa mengangkat trofi tertinggi di jagat sepak bola itu. Dan Cesar Luis Menotti-lah adalah sosok yang berdiri di belakang kesuksesan itu. El Flaco alias si Kurus, itulah julukan pria tanpa ekspresi dan selalu mengisap rokok itu. Dengan kejeniusanya, Cesar Luis Menotti, nama pria itu, seperti sedikit menjadi tameng atas berbagai kontroversi yang mengiringi keberhasilan Argentina menjuarai Piala Dunia 1978.

Sejak awal penunjukkan Argentina sebagai tuan rumah saja, kontroversi sudah langsung mengapung. Sejumlah negara Eropa memprotes pelanggaran HAM yang dilakukan junta militer yang berkuasa di Argentina kala itu. Kudeta yang dilakukan Jenderal Jorge Videla terhadap pemerintahan Isabella Peron, telah mengakibatkan 5 ribu jiwa melayang.

Di atas lapangan, tuan rumah juga dituding menghalalkan segala cara. Termasuk dengan "memaksa" Peru mengalah 0-6 di babak kedua yang membuat Brazil gagal lolos ke babak semifinal.

Namun kehadiran El Flaco seperti sedikit mereduksi berbagai tudingan tadi. Karena ditangannya, Tango tumbuh menjadi tim yang solid. Menotti merubah pola permainan Tango menjadi lebih ofensif.

Iklim sepakbola Argentina juga menjadi lebih profesional saat dia berkuasa. Kebangaan mengenakan kostum Tango dia tanamkan betul di dada para punggawanya. Faktor nasionalisme ini pula yang membuatnya hanya memilih satu pemain saja dari luar Liga Argentina ke dalam skuadnya. Pemain tersebut adalah Mario Kempes yang ketika itu membela Valencia.

"Melihat cara dia berbicara di depan pemain soal sepakbola merupakan pengalaman yang sangat luar biasa. Dia selalu mengatakan kepada kami bahwa dia menjadi pelatih karena dia sangat percaya pada potensi kami. Dia memberi perhatian khusus pada kelebihan yang dimiliki masing-masing individu. Ini yang membuat kami selalu bangga bermain bersamanya," papar Gabriel Calderon, salah satu anak buah Menotti di Piala Dunia 1978, kepada situs resmi FIFA.

Selain kemampuan membakar nasionalisme para pemainnya, Menotti dikenal memiliki prinsip tegas dalam membangun sebuah tim. Publik Argentina sempat dibuat terkejut dengan keputusan Menotti yang tak memanggil pemain masa depan, Diego Maradona. Keputusan ini yang membuat Maradona sempat ngambek dan memutuskan untuk puasa bicara dengan Menotti.

"Saya punya rencana sendiri soal Maradona. Dia sengaja tak saya masukkan dalam line up karena tenaganya sangat dibutuhkan untuk tampil di Piala Dunia Junior," papar Menotti kepada planetworldcup.

Di mata Menotti, Maradona yang ketika itu usianya masih 18 tahun, dinilai masih labil baik dari segi permainan maupun emosi. Meski sebetulnya Maradona sudah menunjukkan bakat hebatnya di usia remaja.

Keputusan Menotti akhirnya bisa diterima publik setelah Argentina tanpa Maradona, bisa menjadi jawara dunia 1978. Publik semakin mengakui ketajaman intuisi Menotti setelah setahun kemudian, Argentina yang dimotori Maradona, berhasil menjadi kampiun di Piala Dunia Junior 1979. Menotti pun tercatat sebagai pelatih pertama yang sukses menyandingkan Piala Dunia senior dan Junior. Sukses yang menempatkan dirinya dalam jajaran pelatih legendaris dunia.

Sumber gambar: canchacaliente.com.mx

About us | Ingin Punya Situs? | Disclaimer | Info Iklan | Redaksi
© 2005 - 2008, Copyright www.zonabola.com, All Rights Reserved 
Best View in 1024 x 768 with IE 5+ & Firefox