|
|
 |
Jumat, 27 Jan 2006, 06:16 Cerdik Poles Pecundang
Italia harus menunggu selama 44 tahun untuk menegaskan kembali eksistensinya sebagai penguasa dunia sepak bola. Semua itu tak akan terwujud andai Azzurri tak memiliki Enzo Bearzot. Cerdas, tapi keras kepala. Itulah figur yang melekat kuat pada sosok Enzo Bearzot. Publik Italia sempat dibuat frustasi oleh sikap Bearzot awal 1980-an. Dia menolak untuk memasukkan gelandang Inter Milan, Evaristo Beccalossi dan striker AS Roma, Roberto Pruzzo. Banjirnya kritikan itu tak mampu menggoyahkan pendirian Bearzot. Dia tetap mencoret kedua nama itu dari skuad Azzurri di Piala Dunia 1982. Keputusan Bearzor sebetulnya tak akan memantik reaksi keras kalau hanya sekadar mencoret Beccalossi dan Pruzzo. Publik dibuat kecewa lantaran Bearzot menggantikan Pruzzo dengan Paolo Rossi. Masuknya Rossi dinilai janggal. Ini karena dia bergabung Azzurri hanya berselang dua bulan setelah menjalani skorsing dua tahun. Sanksi itu dilakukan menyusul dugaan skandal pengaturan skor. Kecaman datang bertubi-tibu, Bearzot tetap saja kukuh pada pendiriannya. Bearzot sempat cemas ketika Italia tampil buruk di babak penyisihan. Azzurri tampil menjemukan melawan Polandia, Peru, dan Kamerun. Selain tak pernah menang, Azzurri bisa lolos hanya karena selisih gol yang lebih baik dari Kamerun. Rossi yang diharapkan bisa membantu ternyata tak mampu mencetak gol dalam tiga laga awal penyisihan. Ini yang membuat kecaman terhadap Bearzot semakin deras mengalir. Publik Italia pun mendesak Bearzot untuk memulangkan Rossi. Publik merasa, Italia tak akan mampu berbuat banyak jika di tim tersebut masih ada seorang pesakitan seperti Rossi. Rossi jelas stress berat. Nah, di sinilah Bearzot menunjukkan kepiawaiannya membangkitkan motivasi pemain dan tim yang tengah terpuruk. Bearzot terus memompa semangat Rossi. "Saya katakan kepadanya, bahwa Piala Dunia ini merupakan kesempatan untuk memulihkan reputasinya yang sudah terlanjur ternoda," papar Bearzot kepada situs resmi FIFA. Suntikan motivasi Bearzot cukup ampuh. Setelah mandul di babak penyisihan, Rossi mengamuk di babak kedua. Brazil menjadi sasaran amuk Rossi. Tiga gol berhasil disarangkan ke gawang Samba. Amuk Rossi berlanjut di babak semifinal. Dia memborong dua gol kemenangan ke gawang Polandia. Dan di final, Rossi ikut menyumbang satu gol ke gawang Jerman. Sukses ini membuat publik Italia mengakui kehebatan Bearzot sebagai motivator dan ahli strategi ulung. Sayangnya, dia gagal meneruskan cerita suksesnya di Piala Dunia 1986. Selain karena tak ada sosok pemain pesakitan seperti Rossi, Bearzot gagal karena dia kerap mengeluhkan orientasi dan nasionalisme pemain yang mulai luntur. "Profil pemain mulai menunjukkan banyak perubahan. Loyalitas mereka sekarang lebih dominan pada klub yang lebih memberikan keuntungan secara bisnis," keluh Bearzot yang kini menjabat sebagai direktur teknik FIGC (PSSI-nya Italia). ENZO BEARZOT Lahir: Friuli 26 September 1927 Karir Pelatih: Timnas: 1969 - 1975 Pelatih Timnas Italia U-23 1975 - 1977 Direktur teknis Timnas Italia senior bersama Fulvio Bernardini 1977 - 1986 Pelatih Timnas Italia senior Prestasi Timnas: 1982 juara Piala Dunia 1982 FIFA World Cup Spain™ Champion Klub: 1964 - 1967 Torino (tim junior) 1967 - 1968 Torino (pelatih kiper) 1968 - 1969 AC Pro Prato Karir Pemain: 1 cap timnas Klub: 1946 - 1948 Pro Gorizia (Seri B) 1948 - 1951 Inter Milan 1951 - 1954 Catania 1954 - 1956 Torino 1956 - 1957 Inter Milan 1957 - 1964 Torino
Sumber gambar: solocalcio.com
|
  |