mscbo
indolucky7
berita bola

Zona Sang Legenda » Tanpa Skill, Jadi Oportunis Paling Hebat

 

Sabtu, 11 Feb 2006, 06:08
Tanpa Skill, Jadi Oportunis Paling Hebat
 
Seorang pahlawan juga bisa lahir dari tong sampah. Paolo Rossi adalah contohnya. Rossi membawa Italia ke podium juara Piala Dunia 1982 setelah sempat dijatuhi sanksi karena suap.

Sebagai seorang tukang gedor, kualitas Paolo "Pablito" Rossi sebetulnya hanya biasa-biasa saja. Dia tak punya skill olah bola sehebat Pele atau Diego Maradona. Dia juga tak memiliki kecepatan tinggi seperti Eusebio dan heading maut layaknya Gerd Mullerd.

Tapi Rossi bisa menutup semua kelemahan yang dimilikinya dengan mengasah insting serta keberanian menusuk di kotak penalti. Dua modal itulah yang membuat Rossi begitu piawai memanfaatkan peluang ada di muka gawang hingga akhirnya dia mendapat julukan oportunis paling hebat di kolong jagat. Momen kemunculan Rossi di muka gawang selalu tepat dan dalam posisi yang tepat pula.

Semua kehebatan Rossi terekam di Piala Dunia 1982. Disitulah Rossi menjadi buah bibir dan disanjung layaknya seorang dewa. Cuma, untuk menerima sanjungan dan predikat pahlawan itu, Rossi harus melewati masa-masa sulit sebagai pemain.

Dia nyaris terlempar dari skuad Azzurri gara-gara keterlibatannya dalam skandal suap di laga Seri A akhir Desember 1978. Ketika itu, Rossi yang membela Perugia, dituduh telah bekerja sama dengan mafia judi untuk mengatur skor laga lawan Avellino.

Laga itu berkesudahan 2-2 dan Rossi sebetulnya mencetak dua gol untuk Perugia. Tapi, komisi disiplin FIGC tetap bisa mengendus rapinya skenario pengaturan skor tersebut. Meski Rossi terang-terangan membantah keterlibatan dirinya, dia tetap tak bisa menghindar dari palu vonis FIGC yang menskorsingnya selama 3 tahun yang kemudian dikurangi menjadi 2 tahun.

Jatuhnya skorsing selama kurun waktu tersebut, membuat kans Rossi untuk tampil di Piala Dunia 1982, juga ikut tertutup. Karena, dia baru terbebas dari skorsing tadi pada April 1982, dua bulan sebelum putaran final digelar.

Tapi keajaiban muncul. Arsitek Azzurri kala itu, Enzo Bearzot, tetap memasukkan nama Rossi dalam skuad yang dibawanya ke Spanyol. Bisa ditebak, Bearzot panen kritikan atas keputusan yang dia ambil.

Bearzot dianggap telah membuat keputusan gila dengan memasukkan figur ’penjahat’ lapangan hijau seperti Rossi. Tapi, Bearzot punya alasan kenapa Rossi dia panggil. Salah satunya, karena Rossi memang masih menyimpan potensi untuk tampil meledak di Spanyol. Bearzot juga melihat jelas pancaran mata Rossi kalau dia memang berniat untuk membersihkan reputasinya.

"Saya tahu, jika Rossi tak hadir di Spanyol, saya tak akan memiliki seorang oportunis di kotak penalti. Di area tersebut, dia masih yang terbaik di negara ini, dia selalu berhasil membuat pemain belakang terkecoh lewat aksinya," papar Bearzot kepada situs resmi FIFA soal alasan penunjukkan Rossi.

Karena Bearzot memang punya otoritas menentukan pemain yang dipanggil, tifosi dan media tak bisa berbuat banyak selain menyayangkan dan mengecam. Piala Dunia 1982 pun mulai digelar. Bearzot sempat panik lantaran dalam tiga laga awal babak pertama, Rossi tak bisa mencetak gol. Di babak kedua, Rossi kembali gagal mencetak gol ketika Italia bertemu Argentina.

Kritikan pun semakin deras mengalir. Bahkan, publik sudah berani menekan Bearzot agar segera memulangkan Rossi. Bearzot dalam kondisi yang serba dilematis. Di satu sisi, dia sangat membutuhkan Rossi. Sementara di sisi lain, publik sudah kehilangan respek pada pemain kesayangannya.

Bearzot pun akhirnya berjudi dengan tetap menurunkan Rossi dalam laga penentuan lolos tidaknya Italia ke babak semifinal lawan Brazil. Laga yang cukup berat. Pasalnya, Brazil hanya butuh hasil seri untuk lolos. Sementara Italia di tuntut untuk menang.

Di luar dugaan, Azzurri berhasil mengalahkan Brazil dengan skor 3-2. Hebatnya lagi, ketiga gol Azzurri diborong oleh Rossi. Kecaman pun kini berbalik sanjungan. Telebih setelah Rossi kembali mencetak dua gol ke gawang Polandia yang memastikan Azzurri lolos ke partai final. Di partai puncak, Rossi ikut menyumbang satu gol yang memastikan kemenangan 3-1 Italia atas Jerman Barat.

Kebesaran jiwa Paolo Rossi telah ditunjukkan lewat suksesnya bersama Italia di Piala Dunia 1982. Dia tak lantas menjadi pengkhianat meski dirinya sempat menjadi sasaran cemoohan tifosi. Sebaliknya, dia memberikan bukti nyata lewat kerja keras dan nasionalisme tinggi di lapangan hingga Azzurri tampil sebagai kampiun.

Nah, kebesaran jiwa itu pula yang ditunjukkan Rossi kepada Juventus. Dia pernah mendapat perlakukan yang sangat menyakitkan ketika dirinya ditolak masuk bergabung dengan skuad junior Juventus saat usianya menginjak 18 tahun gara-gara cedera lutut.

Rossi harus menerima nasib bergabung dengan Como dengan status pinjaman. Hanya semusim di Como, Rossi kemudian dibuang ke klub Seri B, Vicenza. Di klub inilah, Rossi mulai menemukan posisi yang tepat untuk dirinya. Rossi yang awalnya bermain sebagai winger, di Vicenza harus menjalankan peran sebagai penyerang. Posisi yang terus awet ditempati Rossi hingga pensiun.

Di Vicenza pula, namanya semakin melambung. Ini setelah dia ikut membantu klub tersebut promosi ke pentas Seri A. Sebagai balas budi atas kinerjanya yang istimewa, manajemen Vicenza kemudian mematenkan statusnya dengan membayar transfer sebesar 1,5 juta pounds kepada Juventus.

Sayangnya, hanya semusim berlaga di Seri A, pada akhir musim 1976-1977, Vicenza harus kembali terdegradasi ke Seri B. Belitan krisis finansial memaksa manajemen Vicenza melego Rossi sebesar 3 juta pounds ke Napoli. Tapi, Rossi menolak. Dia memilih hijrah ke Perugia meski hanya berstatus pinjaman.

Di Perugia, kiprah Rossi mulai menarik perhatian arsitek Italia Enzo Bearzot. Rossi pun diberi kesempatan tampil di Piala Dunia 1978. Penampilan Rossi tak mengecewakan. Dia berhasil mencetak tiga gol dan membuat dua assist.

Tapi, di Perugia pula, dia terlibat skandal suap yang nyaris mengubur perjalanan kariernya. Karena skandal itu, FIGC langsung menjatuhkan skorsing selama 2 tahun buat pemain yang dijuluki Pablito itu. Tapi, meski masih dalam status seorang hukuman, Rossi toh masih tetap laris. Juventus yang pernah menolak Rossi bergabung, malah membelinya seharga 500 ribu pounds.

Dan di Juventus, dia bergabung dengan Antonio Cabrini, Marco Tardelli, Gaetano Scirea dan Claudio Gentile. Juga dua legiun asing, Michel Platini dan Zbigniew Boniek, dua bintang yang bersinar di Piala Dunia 1982.

Bergabungnya Rossi membuat kekuatan Bianconeri semakin solid. Sederet trofi pun berhasil direbut klub asal kota Turin itu. Diantaranya Coppa Italia (1983), scudetto Seri A dan Piala Winners (1984), serta trofi paling prestisius, Piala Champions (1985). "Memang sangat unik. Saya sempat dibuang Juventus. Tapi kemudian, saya justru menikmati banyak gelar bersama Juventus," aku Rossi kepada Wikipedia.

Rossi sebetulnya sempat masuk dalam daftar pemain yang dibawa Italia ke putaran final Piala Dunia 1986. Namun, karena cedera lutut serius yang menderanya, harapan untuk kembali mengenakan kostum Azzurri pun pupus. Dan di laga uji coba Italia lawan Tiongkok di Napoli dua bulan sebelum perhelatan Piala Dunia 1986, itulah penampilan terakhir Rossi bersama Azzurri.

Siapa yang bisa melawan kehendak alam? Tidak juga Paolo Rossi. Usia serta kondisi fisik yang terus melorot. membuat produktifitasnya menurun tajam. Setelah hengkang dari Juventus pada akhir musim 1985, dia sebetulnya sempat bergabung dengan AC Milan.

Tapi, selama 20 laga bersama Rossonerri, dia hanya mampu melesakkan dua gol. Itu sebabnya, Milan tak lagi memperpanjang kontrak Rossi. Beruntung, Hellas Verona masih bersedia menampung Rossi pada musim 1986-1987.

Namun, dengan kemampuan yang sudah menurun drastis serta cedera lama yang kerap kambuh, tak banyak kontribusi yang diberikan Rossi buat Verona. Rossi pun akhirnya memutuskan gantung sepatu saat usianya menginjak 31 tahun. Usia yang sebetulnya belum terlalu tua untuk ukuran pemain sepakbola.

Setelah pensiun, Rossi tak mau mengikuti arus rekan-rekannya, terutama generasi emas Azzurri di Piala Dunia 1982 yang mayoritas menekuni karier sebagai pelatih atau memegang jabatan penting di sebuah klub. Rossi justru menekuni dunia bisnis dan menjadi komentator di Sky Italia.

Bisnis yang digeluti Rossi sendiri, sangat jauh dari dunia sepakbola. Yaitu mengelola pabrik minuman bio anggur. Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Channel 4, Rossi mengaku kalau memiliki perusahan anggur bio merupakan impiannya sejak lama. Dan usaha yang dirintisnya tiga tahun lalu tersebut semakin berkembang pesat.

"Menghasilkan minuman anggur (wine) adalah salah satu impian saya. Saya beruntung merintis usaha ini sejak tiga tahun lalu," ungkap Rossi yang mengaku membeli Hill Cennina, perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis. Hill Cennina inilah yang kemudian dikembangkan menjadi perusahaan bio anggur.

Tak hanya duduk di belakang meja, Rossi pun piawai menjelaskan proses produksi pembuatan minuman anggurnya. Menurut Rossi, dengan cara biologi, proses fermentasi anggur akan lebih cepat dibandingkan cara non biologi.

"Saya sudah mengenal produk biologi ini sejak lima belas tahun lalu. Dan sebagai salah seorang atlet, saya sangat memperhatikan makan dan juga minuman yang layak untuk dikonsumsi," lanjut Rossi sembari berpromosi.

Karena dianggap sebagai figur pengusaha dan mantan olahragawan yang sangat peduli pada kesehatan, Rossi kerap diundang dalam seminar dan kampanye penanggulangan osteoporosis. Kampanye itu dilakukan disela-sela kesibukannya menjadi komentator sepakbola di Sky TV dan kesehariannya mengelola perusahaan bio anggur.

PAOLO ROSSI
Lahir : Prato, 23 September 1956

Karir Internasional :
1978-1986 : Timnas Italia (48 caps/20 gol)

Prestasi :
1986 : Perempat Final Piala Dunia
1982 : Juara Dunia (top scorer 6 gol)
1978 : Peringkat III Piala Dunia

Karir Klub :
1986 - 1987 : Verona
1985 - 1986 : AC Milan
1981 - 1985 : Juventus
1978 - 1981 : Perugia
1976 - 1977 : Vicenza
1975 - 1976 : Como

Prestasi :
1985 : Piala Champions (Juventus)
1984 : Piala Winners, Seri A (Juventus)
1983 : Coppa Italia (Juventus)
1982 : Seri A (Juventus)

Lain-Lain :
1982 : Pemain Terbaik Eropa
215 kali tampil di Seri A (82 gol)

Sumber gambar: 123football.com

About us | Ingin Punya Situs? | Disclaimer | Info Iklan | Redaksi
© 2005 - 2008, Copyright www.zonabola.com, All Rights Reserved 
Best View in 1024 x 768 with IE 5+ & Firefox